BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Berbahasa merupakan kegiatan yang selalu mengisi
berbagai bidang.Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan bahasa, penggunaan
bahasa dikemas dalam empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca,
berbicara, dan menulis).Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut menjadi
landasan pembelajaran sejak SD hingga perguruan tinggi.
Setiap pelajar diberdayakan kompetensinya untuk
menguasai keempat aspek tersebut (meskipun sulit mencari orang yang menguasai
keempatnya). Dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,
aspek keterampilan berbahasa menjadi komponen menarik untuk dikaji. Bahkan,
para pemakai bahasa pun dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan
kompetensi berbahasa, baik secara reseptif maupun produktif.
Keterampilan berbahasa merupakan aspek kemampuan
berbahasa yang menjadi sasaran utama dalam berkomunikasi.Dalam dunia pendidikan
komunikasi sangat penting, agar dapat menyampaikan informasi yang tepat. Oleh
sebab itu keterampilan berbahasa harus dimiliki oleh tenaga pendidik, untuk
bisa menjadi contoh pada anak didiknya. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa
di sekolah diarahkan untuk keterampilan berbahasa. Pembelajarannya bersifat
integratif karena setiap aspek keterampilan berbahasa dikemas dalam mata
pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Meningkatkan keterampilan
berbahasa anak sangat diperlukan. Karena pada zaman sekarang banyak anak-anak yang melupakan
keterampilan berbahasa yang baik dan benar.
Karya sastra merupakan wujud dari
perkembangan keterampilan berbahasa. Melalui pembelajaran
keterampilan menyimak dan membaca, dapatmengembangkan kemampuan dalam
menikmati, menghayati dan memberikan penilaian terhadap karya sastra.
B. TUJUAN
Dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat
meningkatkan keterampilan berbahasa karena keterampilan berbahasa merupakan
faktor utama dalam komunikasi. Terutama bagi anak didik,
agar dapat mengembangkan keterampilan berbahasa melalui karya
sastra.
BAB II
ISI
I.
KETERAMPILAN
BERBAHASA
A.
Pengertian
Keterampilan Berbahasa
Menurut Hoetomo
MA (2005:531-532) terampil adalah cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan
cekatan. Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas atau kecakapan
yang disyaratkan. Dalam pengertian luas, jelas bahwa setiap cara yang digunakan
untuk mengembangkan manusia, bermutu dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan
kemampuan sebagaimana diisyaratkan (Suparno, 2001:27).
1.
Keterampilan
Menyimak
Menyimak adalah keterampilan memahami bahasa lisan
yang bersifat reseftif, berarti bukan sekedar mendengarkan bunyi-bunyi bahasa
melainkan sekaligus memahaminya. Dalam bahasa pertama (bahasa ibu), kita
memperoleh keterampilan mendengarkan melalui proses yang tidak kita sadari
sehingga kitapun tidak menyadari begitu kompleksnya proses pemerolehan
keterampilan mendengar tersebut.
Mendengarkan secara interaktif terjadi dalam
percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau yang sejenis dengan itu.
Dalam situasi mendengarkan non interaktif tersebut, kita tidak dapat meminta
penjelasan dari pembicara, tidak bisa meminta pembicaraan diperlambat.
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan yang
terlibat ketika kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu
pendengar harus:
a.
Menyimpan/mengingat
unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short term
memory).
b.
Berupaya
membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa.
c.
Menyadari adanya
bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara dan intonasi, menyadari adanya
reduksi bentuk-bentuk kata.
d.
Membedakan dan
memahami arti dari kata-kata yang didengar
e.
Mengenal
bentuk-bentuk kata yang khusus.
2.
Keterampilan
Berbicara
Keterampilan berbicara secara garis besar ada tiga
jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi
berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat
telepon yang memungkinkan adanya penyantuan antara berbicara dan mendengarkan.
Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif,
misalnya dalam berpidato di hadapan umum secara langsung. Namun pembicara dapat
melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa
situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya berpidato
melalui radio atau televisi.
Berikut ini beberapa keterampilan yang harus dimiliki
dalam berbicara, dimana pembicara harus dapat:
a.
Mengucapkan
bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya.
b.
Menggunakan
tekanan dan nada serta intonasi secara jelas dan tepat sehingga pendengar dapat memahami apa yang diucapkan pembicara.
c.
Menggunakan
bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat.
d.
Menggunakan
ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi termasuk sesuai
ditinjau dari hubungan antar pembicara dan pendengar.
e.
Berupaya agar
kalimat-kalimat utama jelas bagi pendengar.
3.
Keterampilan
Membaca
Membaca adalah keterampilan reseptif bahasa tulis. Keterampilan
membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah dari keterampilan
mendengar dan berbicara. Secara terintergrasi dengan keterampilan menyimak dan
berbicara. Membaca adalah proses pemahaman terhadap lambang-lambang tulisan.
Membaca merupakan salah satu kegiatan untuk mendapatkan informasi. Pada umumnya
membaca bertujuan memahami isi wacana atau bacaan.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan
proses membaca yang harus dimiliki oleh pembicara adalah :
a.
Mengenal sistem
tulisan yang digunakan.
b.
Mengenal
kosakata.
c.
Menentukan
kata-kata kunci yang mengindentifikasikan topik dan gagasan utama.
d.
Menentukan makna
kata-kata, termasuk kosakata split, dari konteks tertulis.
e.
Mengenal kelas
kata gramatikal, kata benda, kata sifat, dan sebagainya.
4.
Keterampilan
Menulis
Keterampilan menulis adalah kemampuan yang dimiliki
seseorang dalam bidang tulis menulis sehingga tenaga potensial dalam menulis. Menulis
adalah keterampilan produktif dengan menggunakan tulisan. Menulis dapat
dikatakan suatu keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenis-jenis
keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekedar menyalin
kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan
pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.
Berikut ini keterampilan-keterampilan yang diperlukan
dalam menulis adalah :
a.
Menggunakan
ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan.
b.
Memilih kata
yang tepat.
c.
Menggunakan
bentuk kata dengan benar.
d.
Mengurutkan
kata-kata dengan benar.
e.
Menggunakan
struktur kalimat yang tepat dan jelas bagi pembaca.
Seperti
diketahui, menulis itu adalah sebuah keterampilan sehingga dapat dilatih
sedemikian rupa meningkatkan kemampuan tersebut. Dalam dunia penulisan, pengertian
keterampilan menulis seringkali menjadi sesuatu yang biasa sehingga banyak yang tidak memahami pengertian yang
sesungguhnya. Hal ini banyak dibuktikan dari kenyataan banyak yang menganggap
bahwa menulis itu ditentukan karena bakat.
Sebenarnya
pengertian keterampilan menulis itu adalah keterampilan itu sendiri. Artinya,
seseorang mempunyai kemampuan menulis karena dia terampil. Sementara untuk
dapat terampil dalam menulis, maka dia harus melakukannya secara langsung atau
melatih dirinya sehingga terampil. Dengan demikian pengertian keterampilan
menulis adalah kemampuan yang didapat dan dimiliki oleh seseorang setelah
melalui proses pelatihan secara intens, khusus dalam bidang menulis. Dengan mengikuti
pelatihan atau berlatih secara intens, maka seseorang dapat terampil menulis.
B.
Hubungan antara berbicara dengan menyimak
Ujaran (speech)
biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Anak akan belajar
berbicara dari apa yang ia dengar atau yang ia simak. Meningkatkan keterampilan
menyimak berarti meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
C.
Hubungan antara menyimak dengan berbicara
Keterampilan menyimak juga menjadi dasar seseorang
belajar membaca secara efektif. Peningkatan keterampilan menyimak juga akan
meningkatkan keterampilan membaca. Untuk memperkaya kosakata, meningkatkan
pemahaman umum, dan memiliki ide-ide, kita perlu mengasahnya dengan membaca
kemudian mendiskusikannya baik sebelum, selama, ataupun sesudah membaca.
D.
Hubungan berbicara dengan membaca
Kemampuan umum bahasa lisan akan mempermudah pemahaman
dalam membaca. Kemampuan umum disini misalnya pengucapan yang jelas (artikulasi),
penggunaan kalimat yang tepat, perbendaharaan kosakatanya banyak, dan mampu
menghubungkan suatu peristiwa dalam urutan yang wajar.
II.
KARYA SASTRA
Karya satra yang berisi pemikiran, ide-ide, kisahan
dan amanat penutur dapat berkomunikasi dengan peminat sastra, apabila mereka
mampu mengapresiasikannya. Untuk dapat mengapresiasikan karya sastra dengan
baik pada diri peminat tentulah harus ada cinta dan kasih sayang terhadap karya
sastra. Hal ini dapat dipupuk misalnya dengan menumbuhkan dan mengembangkan
minat untuk mengenal dan menghayati secara intensif karya sastra itu.
A.
PUISI
Salah satu bentuk karya sastra adalah puisi.Kehadiran
sebuah puisi merupakan pernyataan seorang penyair. Pernyataan itu berisi
pengalaman batinnya sebagai hasil proses kreatif terhadap objek seni. Puisi
merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan
manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara terpadu dan
utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi.
Puisi adalah (1) ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta
penyusunan larik dan bait; (2) gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga
mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus
lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.
Ciri-ciri puisi:
1.
Menggunakan
bahasa sebagai kualitas estetiknya tambahan, atau selain arti semantiknya
2.
Wujud estetika bahasanya
dengan pengulangan yg disengaja
3.
Memiliki rima
4.
Dapat memiliki
satu kata/satu suku kata
5.
Memiliki arti
tertentu
B.
DRAMA
Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa
yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan
suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari
drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang
memainkan drama disebut aktor atau lakon. Drama menurut masanya dapat dibedakan
dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.
1.
Drama Baru / Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan
kepada masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.
Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang
kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar
biasa, dan lain sebagainya.
Drama adalah (1) komposisi syair atau prosa yg
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku
(akting) atau dialog yg dipentaskan; (2) cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater.
Ciri-ciri drama:
1.
Mesti ada
konfliks
2.
Mesti ada aksi
3.
Harus dilakonkan
4.
Tempo masa
kurang daripada 3 jam
5.
Tidak ada ulangan dalam satu masa
C.
NOVEL
Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan
seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel
adalah salah satu karya fiksi berbentuk prosa. Ciri-ciri novel antara lain:
1.
ditulis dengan
gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana;
2.
bersifat
realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi
lingkungannya;
3.
bentuknya lebih
panjang, biasanya lebih dari 10.000 kata;
4.
alur ceritanya
cukup kompleks.
Novel terdiri
atas beberapa unsur intrinsik antara lain: alur, tokoh dan penokohan, latar,
tema, dan amanat. Ada beberapa istilah alur antara lain: alur rapat, alur
renggang, alur progresif, alur regresif, dan alur gabungan. Alur rapat artinya
hubungan antara proses dengan konflik sangat rapat. Kebalikannya alur renggang.
Alur progresif yaitu menceritakan kejadian secara maju. Sebaliknya adalah alur
mundur atau regresif. Alur gabungan jika menggabungkan alur progresif dan
regresif.
Tokoh itu
pelaku, sedangkan penokohan artinya penggambaran watak tokoh dalam novel. Watak
tokoh berkembang mengiring konflik. Latar berkenaan dengan dimana (latar
tempat), kapan (latar waktu), bagaimana (latar suasana), latar sosial, dan
latar budaya, serta latar agama. Tema merupakan dasar cerita yang menggambarkan
inti masalah yang mendasari cerita novel. Tema bisa diambil dari kritik
sosial, ekonomi, kemanusiaan, ketuhanan, keagamaan, atau keserakahan kaum penindas.
Untuk
menganalisis novel biasanya anda diminta mengemukakan unsur intrinsik dari sebuah
novel. Untuk itu yang anda perlukan adalah: (a) identifikasilah unsur intrinsiknya; (b) jelaskan
hubungan antarperistiwa yang terjadi dalam novel; (c) Analisis hal tersebut
menurut sudut pandang anda atau berdasarkan teori yang anda pedomani; (d) tuliskan hasil analisis tersebut
dalam bentuk tulisanatau kritik sastra.
Novel memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
1.
Menceritakan
sebagian kehidupan yang luar biasa.
2.
Terjadinya
konflik hingga menimbulkan perubahan nasib.
3.
Terdapat
beberapa alur atau jalan cerita (alur kompleks).
4.
Terdapat
beberapa insiden yang mempengaruhi jalan cerita.
5.
Perwatakan atau
penokohan dilukiskan secara mendalam/ mendetail.
6.
Ditulis dengan
gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana.
7.
Bersifat
realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi
lingkungannya.
8.
Bentuknya lebih
panjang dari cerpen, biasanya lebih dari 10.000 kata.
D.
ROMAN
Roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi
jiwa masing-masing.lebih banyak membawa sifat-sifat zamannya dari pada drama atau puisi.
Ciri-ciri roman:
1.
Alur Kompleks.
2.
Konflik sampai
mengubah nasib tokoh secara tragis.
3.
Menceritakan
kehidupan tokoh secara mendetail sejak lahir sampai dewasa atau meninggal dunia.
4.
Karakter tokoh
disampaikan secara lebih mendetail.
E.
CERPEN
Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan
short story, merupakan satu karya
sastra yang sering kita jumpai di berbagai media masa. Cerita pendek apabila
diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang
bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang
dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan
diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika.
Dari beberapa pendapat di atas dapatdisimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang
menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi
padat.
Ciri-Ciri Cerpen:
1.
Tidak lebih dari
10.000 kata ( selesai dalam " sekali duduk"/15-30 menit.)
2.
Besifat Fiksi.
3.
Fokus cerita
pada satu kejadian tunggal.
4.
Terbatas pada
hal-hal yang penting saja.
5.
Perwatakan tokoh
digambarkan sekilas.
6.
Alur yang
digunakan alur rapat.
7.
Konflik yang
ditampilkan tidak menimbulkan perubahan nasib tokohnya.
F.
HIKAYAT
Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk
prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan,
historis, biografis, atau gabungan.Bersifat istana centrissifat-sifat itu, dibaca untuk
pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.
Ciri-ciri hikayat adalah:
1.
Anonim(nama
pengarang tidak di cantumkan)
2.
Berkembang
secara stetis
3.
Bersifat
imajinatif,hanya bersifat khayal
4.
Lisan,karena di
sebarkan lewat mulut ke mulut
5.
Berbahasa
klise,meniru bahasa penutur sebelumnya
6.
Bersifat
logis,menggunakan logika sendiri tidak sesuai dengan logika sendiri
III.
KETERAMPILAN
BERBAHASA DAPAT BERKEMBANG MENJADI KARYA SASTRA
A.
Keterampilan
Berbahasa dalam Perspektif Pembelajaran
Dalam dunia
pendidikan para pengajar terus berupaya meningkatkan keberhasilan dalam
pembelajaran bahasa melalui pencapaian kompetensi berbahasa, yakni menyimak,
membaca, berbicara, dan menulis. Keterampilan berbahasa adalah sebagai berikut:
1.
Mendengarkan
Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian
berita, laporan, saran, bercerita, pidato, wawancara, diskusi, seminar, dan
pembacaan karya sastra berbentuk puisi, cerita rakyat, drama, cerpen, dan
novel.
2.
Berbicara
Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran,
perasaan, dan informasi dalam kegiatan berkenalan, diskusi, bercerita,
presentasi hasil penelitian, serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan
drama.
3.
Membaca
Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami
wacana tulis teks nonsastra berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana,
teks pidato, serta teks sastra berbentuk puisi, hikayat, novel, biografi, puisi
kontemporer, karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik.
4.
Menulis
Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk
mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks narasi,
deskripsi, eksposisi, argumentasi, teks pidato, proposal, surat dinas, surat
dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan,resensi, karya ilmiah, dan
berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama, kritik.
|
Aspek
|
Topik
|
|
Menyimak
|
a. Menangkap
pokok pikiran
b. Membedakan
bunyi distingtif
c. Mengungkap
kembali tuturan
|
|
Membaca
|
a.
Meningkatkan kecepatan membaca
b. Menangkap
pokok pikiran
c. Menemukan
topik tulisan
|
|
Berbicara
|
a. Pemproduksian tuturan
b. Keefektipan kalimat
c. Keruntutan
gagasan
d. Ketepatan
artikulasi
|
|
Menulis
|
a. Menulis jurnal
b. Menulis artikel
c. Menulis bersama
d. Menulis prosa fiksi
|
BAB III
PENUTUP
Adapun proses pengembangan keterampilan
berbahasa dapat melalui empat keterampilan berbahasa, meliputi
keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan
keterampilan menulis. Melalui pembelajaran keterampilan menyimak dan membaca,
siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menikmati, menghayati dan
memberikan penilaian terhadap karya sastra.Sementara itu, melalui pembelajaran
keterampilan berbicara dan keterampilan menulis, siswa dapat mengekspresikan
kemampuannya dalam bersastra melalui kegiatan mencipta berbagai macam karya
sastra, bagaimanapun bentuk dan kualitas hasilnya.
Kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra
diharapkan dapat terwujud dalam berbagai bentuk, antara lain kegemarannya dalam
membaca karya sastra,Kemampuannya dalam membaca dan menulis puisi,
keterampilannya dalam memerankan karakter tokoh dalam drama, kegemarannya dalam
menonton pentas drama, dan keterampilannya dalam menganalisis atau menilai
karya sastra. Untuk dapat terlibat langsung dengan karya sastra.
Hendaknya keterampilan berbahasa anak dapat di ajarkan
dan dikembangkan sejak dini yaitu pada usia SD. Agar kemampuan keterampilan
berbahasa anak mendapatkan hasil yang maksimal. Sehingga anak dapat menguasai
dan mengembangkannya dengan keterampilan bahasanya. Dengan harapan, dapat
di kembangkan melalui karya satra.Keterampilan berbahasa dapat dengan mudah dimengerti,
dipahami, dan dipelajari.
Daftar Pustaka
Gofur, Abd. 2009. Modul Diklat Guru Bahasa
Indonesia. Medan: Balai Diklat Keagamaan Medan.
Iskandarwassid M.Pd , Drs. Dkk. 1997. Sejarah
Sastra Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Bagian Proyek Penataran Guru.
Z.F, Zulfahnur.Dkk. 1997. Teori Sastra.
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar